CV. MENARA RIAU

PENERBIT CV. MENARA RIAU |PENDIRI|Sam Abednego Simbolon|PENASEHAT AHLI| M.T.Simbolon, Jhonny Hanny Tompunu,S.Th, M.Pd.K | PEMBINA | DR(HC).Sofyan,SR, DR(HC).Agen Simbolon | PIMPINAN UMUM |W.J.S | PIMPINAN PERUSAHAAN | Sam Abednego.S. | PIMPINAN REDAKSI | Sam Abednego Simbolon | REDPEL | | SEKRETARIS |Dewi.M.P| PENASEHAT HUKUM | IMMANUEL NDOEN,SH,MA,M.TH | STAF AHLI |Dantes.S.| LITBAG | Erwin.F.N | IT |Bromy Liong Sinaga, Harmen Suhaimi Harahap | DISIGN GRAFIS | H.S.Hrp, Willy Andreas Pasaribu | BIRO PEKANBARU | | BIRO BENGKALIS | Erwin F. Nababan (Kepala), R.L.Tampubolon, j.saragih, Ronal.S (Duri)| BIRO ROHIL | Supardi (Kepala)| BIRO ROHUL | | BIRO KAMPAR | | BIRO SIAK | | BIRO PELALAWAN | | BIRO INHIL |Supeno| BIRO INHU | |

Sabtu, 24 Mei 2014

TIM MEDIS BBKSDA : “GAJAH BETINA ITU MATI AKIBAT TUMOR DAN INVEKSI BERAT YANG DIDERITANYA”



  • GAJAH BETINA MATI AKIBAT SAKIT ATAU KENA RACUN ATAUKAH AKIBAT KELALAIAN PEMERINTAH??? 
  • HUTAN TEMPAT HABITAT GAJAH SUDAH PUNAH, APAKAH GILIRAN SATWA LANGKA GAJAH INI YANG AKAN DIMUSNAHKAN??? 
  • PIHAK BBKSDA RIAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEMATIAN SATWA GAJAH INI.  
Mandau, Menara Riau 

     Setiap makhluk ciptaan Tuhan yang ada di muka Bumi ini memang sudah ditentukan masa hidupnya oleh sang Pencipta, dan tidak seorangpun yang tahu kapan lahir dan matinya. Baik itu Manusia maupun binatang serta tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi terkadang kehidupan makhluk hidup tersebut ada juga yang di atur oleh ‘kekuasaan & kekuatan’ oknum manusia yang notabene sama-sama ciptaan Tuhan.  

     Kita lihat saja se-ekor Gajah Betina yang menghembuskan nafas terakhirnya di seputaran kolam pancing KM.6 jalan Rangau Kecamatan Mandau, Bengkalis. Dari olah TKP dari Tim Medis BBKSDA dilapangan mengatakan bahwa Gajah Betina ini mengidap suatu penyakit yang sudah akut dan sudah lama di derita oleh Satwa liar tersebut. Penyakit tumor dan inveksi berat yang diidap gajah betina itu membawa malapetaka bagi kumpulan satwa liar Gajah.  

     Oleh karena sudah tidak dapat menahan rasa sakit yang sudah berkepanjangan dalam tubuhnya, akhirnya Gajah Betina tersebut tergeletak dan terbujur kaku di sekitar kolam pancing pada minggu (11/5) lalu sekitar pukul 19:00 wib. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, gajah betina itu sempat mendapatkan perawatan medis dari Tim Medis BBKSDA Riau, namun pertolongan yang diberikan Tim Medis tidak mampu lagi menambah usia dari satwa liar tersebut.  

     Padahal, sudah berbagai cara dilakukan dan semua kekuatan dikerahkan untuk menolong gajah yang sedang terkapar di tanah itu. Sekitar 40 botol infuse sudah masuk dalam tubuh gajah tersebut agar dapat bertahan hidup. Bahkan tim medis BBKSDA telah membuang semua jaringan tubuh yang mati di sekitar tumor serta telah memberikan serum/obat antibiotic dibagian yang terluka. Namun sepertinya usaha yang dilakukan tim medis tidak membuahkan hasil.  

     Sebelum ditangani oleh tim medis BBKSDA Riau, Gajah Betina itu memang sudah tampak tidak berdaya untuk menahan tubuhnya yang besar dan sesekali jatuh di tanah saat dalam penanganan. Tim medis BBKSDA yang menangani Gajah itu mulai dari pukul 14:00 Wib. Situasi ditemukannya Gajah sakit itu sempat membuat warga sekitar berdatangan untuk melihat keadaan Gajah dan situasi pada saat penanganan medis dilaksanakan oleh tim medis.  

     Dokter hewan yang menangani Gajah Betina pengidap Tumor dan Inveksi berat itu mengatakan, “Kami tim medis berupaya melakukan penyembuhan bagi satwa yang dilindungi Negara ini agar dapat bertahan hidup. Namun penanganan yang kami lakukan bertahap, mengingat kondisi fisik dan penyakit yang di derita gajah ini. Pada dada gajah ini terdapat pembengkakan oleh karena adanya Tumor. Ada kemungkinan Tumor itu tergesek atau terkena ranting ataupun dahan pohon yang mengakibatkan luka didada itu inveksi dan mengeluarkan bau busuk yang mengundang lalat hinggap dan menggerogoti luka tersebut”, papar Anhar Lubis.  

     “Saat ini kami hanya bisa melakukan perawatan terhadap gajah betina ini. Kami tidak melakukan pembedahan terhadap penyakit Tumor yang diidap sang gajah, karena apabila akan dilakukan pembedahan, hal itu perlu persiapan yang matang dan persediaan obat-abatan yang lengkap serta peralatan bedah yang memadai. Selain biaya bedah yang sangat besar, dari segi resiko juga sangat tinggi akan terjadinya kematian terhadap satwa liar ini. Yang kami lakukan ini memang hanyalah tindakan pengobatan tahap awal”, ujar Anhar.  

     “Kita tidak melakukan tindakan pembedahan terhadap gajah betina ini Karena kami sangat kuatir akan jahitan setelah operasi itu nantinya tidak sanggup untuk menahan bobot organ-organ tubuh bagian dalam gajah itu yang cukup berat. Terlebih lagi keadaan gajah yang sudah sangat lemah akibat kurangnya asupan makanan ke tubuhnya membuat badan/tubuh gajah ini tampak kurus”, tambahnya.  

     Ketika awak media ini bertanya dan meminta tanggapan kepada Komunitas Selamatkan Satwa Gajah & Lingkungan (KSSGL) mengenai bertambahnya seekor gajah lagi yang mati dalam wilayah pengawasan BBKSDA, ketua KSSGL Dantes Sianipar mengatakan, “Kenapa tunggu mati dulu gajah baru pihak BBKSDA mengutus tim Medisnya turun kelapangan??? Apakah selama ini tidak pernah dilakukan pengecekan ataupun pemantauan ke lapangan untuk melihat kondisi dari pada gajah-gajah liar itu??? Apakah cukup hanya dilakukan pengobatan awal saja terhadap Gajah yang sudah mengidap penyakit kronis seperti itu???”, tutur Dantes Sianipar baru-baru ini kepada awak media.  

     “Bagaimana bisa seekor Gajah Betina mengidap penyakit yang akut tidak diketahui oleh pihak BBKSDA Prov.Riau sampai selama ini hingga mengakibatkan melayangnya nyawa gajah betina tersebut??? Padahal Rangau KM.6 dan sekitarnya ini kan masih termasuk dalam kawasan pengawasan pihak BBKSDA Riau. Dan bagaimana mungkin seekor gajah liar dapat menderita tumor sampai Inveksi berat seperti itu dengan sendirinya tanpa diketahui penyebab dari asal muasal penyakit tersebut??? Apakah tim medis sudah mendapatkan hasil dari Outopsi yang dilakukan di Laboratorium Sumbar atau Lab.Bogor itu apa belum??? Pihak Tim Media jangan hanya bisa dengan cepat mengambil organ-organ tubuh bagian dari satwa berbelalai itu, tapi harus bisa juga cepat mendapatkan hasil Outopsinya agar diketahui apa penyebab dari adanya Tumor di tubuh Gajah Betina yang sudah mati tersebut”, tegasnya.       *001. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar